Lewat program Kosabangsa 2026, Kelompok Wanita Tani Sanggra Agung belajar mengolah jahe, kunyit, temulawak, dan kencur menjadi produk bernilai.
Dosen Farmasi Universitas Noor Huda Mustofa (UNHM) bersama UPN Veteran Jawa Timur menggelar pelatihan diversifikasi produk biofarmaka bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Sanggra Agung, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan.
Kegiatan ini bagian dari Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) Tahun Anggaran 2026, yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tujuannya menguatkan peran petani perempuan dan masyarakat lokal lewat produk herbal dan kesehatan tradisional.
Tim dosen menggandeng Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangkalan sebagai mitra pemerintah, serta MPStore sebagai mitra industri di bidang digital marketing dan e-commerce.

Devi Anggraini Putri, M.Si. memberikan pelatihan dan penguatan kepada KWT Desa Sanggra Agung.
“Sains dan teknologi harus ditularkan kepada masyarakat dan dikolaborasikan bersama multidisiplin ilmuwan serta pemerintah dan industri, sehingga menciptakan dampak sebesar mungkin bagi Bangkalan dan Indonesia.” — Devi Anggraini Putri, M.Si., ketua tim pelaksana Kosabangsa
Lahirnya Sanggradaya
Devi berpesan bahwa dampak bukan hanya apa yang dihasilkan selama program, tetapi apa yang tetap bertahan setelah program selesai. Karena itu, tim dosen menggagas Sanggradaya sebagai wadah inkubator di Desa Sanggra Agung.
Harapannya, Sanggra Agung tumbuh menjadi Sentra Bisnis Biofarmaka Lokal yang berkelanjutan. Nama Sanggradaya berasal dari “Sanggra”, nama desa, dan “Daya”, yaitu masyarakat desa yang berdaya dan berbudaya.
Dari bahan baku ke ragam produk
Materi dimulai dari potensi rimpang yang paling diminati: jahe, kunyit, temulawak, dan kencur. Peserta lalu belajar standardisasi bahan baku, mulai dari pencucian, pengeringan, perajangan, sortasi, hingga penyimpanan.

Tim dosen mendemonstrasikan diversifikasi produk biofarmaka kepada peserta.
Dalam sesi demo, Devi bersama Rizka Efi Mawli, M.Si. dan Rulisiana Widodo, M.Tr.Kom. memperkenalkan minuman, serbuk instan, tisane, herbal latte, hingga kue kering herbal. Peserta mempelajari titik kritis tiap produk, misalnya mengemas minuman saat hangat lalu menyimpannya dingin.

Peserta memperhatikan karakteristik sediaan dan melakukan uji organoleptik sederhana.
Pelatihan juga membahas cek mutu tiap batch, label sesuai ketentuan pangan olahan, dan perizinan SPP-IRT. Dari sisi bisnis, peserta berlatih menghitung HPP per kemasan, menambahkan margin, dan membandingkannya dengan harga pasar.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk dapat mendukung dan meningkatkan nilai jual hasil pertanian masyarakat Bangkalan.” — Samhori, Ketua Kelompok Tani Sumur Agung
Langkah lanjutan
Setelah pelatihan, peserta akan mencoba produksi di dapur kelompok, memilih satu produk unggulan, mengurus SPP-IRT melalui Dinas Kesehatan, lalu menjual secara terbatas sambil mengumpulkan masukan.
Tim dosen juga sedang mengembangkan Hybrid Solar House Dryer di Sanggra Agung: pengering rempah dengan pemanas hybrid dan Internet of Things (IoT), agar petani bisa menghasilkan bahan biofarmaka yang terstandar.

Tim dosen UNHM dan UPN Veteran Jawa Timur bersama kelompok tani Desa Sanggra Agung.
